Misteri Globalisasi Finansial

Kompas, 1 Februari 2008 | 08:40 WIB

Imam Cahyono

Unexplainable market episodes are something Fed policymakers have to deal with all the time. Alan Greenspan
Mendung hitam yang membayangi pasar finansial menebar kepanikan dan trauma ke seluruh dunia.Meski kondisi bursa global yang sempat rontok beranjak pulih, ketidakpastian terus menyelimuti. Dalam era globalisasi finansial, ekonomi saling terhubung satu sama lain secara kompleks dan sangat rentan.
Pertemuan tahunan Masyarakat Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, yang gencar menyiarkan mantra globalisasi melalui integrasi ekonomi global pun dirundung cemas. Gonjang-ganjing finansial belum tampak berakhir.
Tangan gaib
Pasar finansial melesat dan mendunia ditopang fundamentalisme pasar sebagai ideologi dominan pada 1980. Liberalisasi sistem finansial menawarkan kesempatan bagi individu untuk mengeruk keuntungan besar pada setiap kesempatan. Kaum fundamentalis percaya, pasar akan menuju titik ekuilibrium untuk mengontrol diri sendiri tanpa perlu intervensi (invisible hand).
Lalu, lintas modal di lantai bursa merupakan fitur globalisasi finansial. Jantungnya ada di Wall Street, New York, dan the City, London. Angka transaksi uang yang beredar di pasar modal jauh lebih besar ketimbang yang berputar di masyarakat. Padahal, aset finansial hanya klaim di atas kertas atas aset riil dan aset produktif. Akhir tahun 2004, menurut McKinsey Global Institute, jumlah aset finansial mencapai 334 persen dari total produk domestik bruto (GDP) global.Miliaran transaksi ekonomi antara konsumen dan investor di lantai bursa tak lagi terkontrol. Regulator kesulitan memonitor. Rontoknya bursa global adalah bukti kegagalan bank sentral, terutama AS (The Federal Reserve), untuk mengendalikan pasar liar. Dalam sekejap, dengan mudah investor menempatkan atau memindahkan modalnya ke tempat yang dianggap menguntungkan.Greenspan (2007) mengungkapkan, keterbatasan regulasi karena regulator sering tidak tahu sumber krisis. Gejolak pasar bak teka-teki yang sulit dijelaskan The Fed. Bahkan, upaya mengatasi problema yang melanda sering dilakukan dengan data tidak lengkap, tidak akurat, tidak logis, dan tidak kuat secara hukum.

Mantan Gubernur The Fed menambahkan, regulasi pemerintah atas pasar global tidak berdampak signifikan. AS pun tidak mampu melindungi warganya yang kehilangan rumah. Pasar bergerak di luar kendali, disusul munculnya aneka masalah. Dalam situasi yang cepat berubah, antisipasi sebuah kebijakan baru tidak efektif karena muncul masalah baru lainnya.

Namun, Greenspan percaya, kekuatan terbesar ekonomi AS adalah kemampuan sekaligus daya tahan dalam menghadapi gejolak sambil melakukan pemulihan. Sering kali ini dilakukan tanpa terprediksi. Kendati menghadapi krisis, ia yakin perekonomian dapat pulih sendiri meski memakan waktu panjang.

Intervensi

Apakah dampak gejolak pasar global harus dibiarkan menunggu tangan gaib memulihkan keadaan? Untuk mengungkap kegembiraan, ketakutan, dan harapan, apakah warga negara dunia harus menanti keajaiban pasar?

Bagaimanapun regulasi penting untuk menata pasar, mencegah kepanikan, dan menyediakan aturan kompetisi yang fair. Kerja sama regulasi global dibutuhkan sebagai upaya antisipasi dampak negatif lalu lintas pasar global. Di sinilah urgensi peran pemerintah dan otoritas moneter guna memonitor dan mengendalikan pasar finansial global—seperti menetapkan capital control—untuk mendukung kebijakan ekonomi global.

Negara berkembang seperti Indonesia tentu harus sigap belajar dari krisis yang melanda AS, sambil melindungi diri dari berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Kajian Woodrow Wilson International Center for Scholar (Muchhala, et. al, 2007) mengemukakan, meski krisis Asia 1997 merupakan peristiwa penting, belum ada konsensus yang menyepakati akar masalahnya. Dugaan penyebab krisis umumnya volatilitas globalisasi finansial, kelemahan fundamental sistem keuangan domestik, liberalisasi keuangan tanpa diikuti regulasi memadai, dan faktor-faktor lainnya.

Krisis 1997 telah berlalu 10 tahun. PDB regional tumbuh rata-rata 4-6 persen antara tahun 1999 dan 2005, lebih rendah dibanding sebelum krisis yang mencapai 7-9 persen (1991-1996). Depresiasi mata uang belum sepenuhnya pulih. Won membaik 95 persen, baht dan ringgit mencapai 70 persen, peso 50 persen, tetapi rupiah hanya 25 persen.

Sejarah memang berulang. Awalnya Meksiko, menyusul Brasil, Argentina, lalu kembali ke Meksiko, disusul Thailand, Indonesia dan Argentina lagi, dan kini AS. Mengatasi gonjang-ganjing pasar finansial ibarat meraba gajah dalam gelap. Belum ada jurus ampuh untuk menaklukkannya. Tetapi harus cepat dipecahkan sebelum terlambat!

Imam Cahyono Program Officer Globalisasi Perkumpulan Prakarsa

2 Responses to “Misteri Globalisasi Finansial”

  1. andrie Says:

    pokoknya indonesia harus bisa mengikuti arus globalisasi dunia, karena kalau tidak maka indonesia menjadi korban arus yang mengalir dengan sangat deras tersebut…..

  2. budysatriyo Says:

    halo bos…budysatriyo kayen
    kunjungi juga http://pasfmpati.com/ atau http://pasfmpati.wordpress.com/

Leave a Reply